Ada ungkapan yang mengatakan, bahwa sesuatu yang paling polos terkadang mungkin malah memiliki kejujuran yang lebih indah dari apapun. Saya adalah salah satu yang mempercayai ungkapan tersebut. Dan saya mulai untuk percaya, ketika beberapa waktu lalu seorang sahabat mengirimkan beberapa puisinya (yang lebih suka dia sebut 'tulisan') kepada saya.
22 Januari 2014
13 Januari 2014
SEEKOR BURUNG GAGAK
di sebuah pagi,
seekor burung gagak tergeletak mati
di tengah jalan
matanya memar dan nyaris terbakar
kami berkumpul mengelilingi jasadnya
membicarakan kematiannya
menerka-menerka
sambil terus mencari jawabannya
mungkin dia tersesat hingga pagi tiba
mungkin dia terlambat menghindari sang surya
mungkin pendar matahari melukai matanya
membutakannya
bisa saja, pikirku
karena kami tahu takdirnya
sebagai pembawa kabar maut yang dilahirkan oleh legam malam
karena kami mengenalnya
sebagai penyulam dukacita yang bernafas dalam kegelapan
seekor gagak selalu takut akan cahaya
seekor gagak selalu membenci sisi terang dunia
karena dia tahu,
jika dia digariskan sebagai pewarta kematian manusia
maka suatu hari mataharilah yang akan mewartakan kematiannya
kami masih berkumpul mengelilingi jasadnya
membicarakan kematiannya
menerka-nerka
tanpa pernah menemukan jawabannya
hingga satu-persatu dari kami melangkah pergi
meninggalkan jasad seekor burung gagak
yang tergeletak mati ditengah jalan
,di suatu pagi
seekor burung gagak tergeletak mati
di tengah jalan
matanya memar dan nyaris terbakar
kami berkumpul mengelilingi jasadnya
membicarakan kematiannya
menerka-menerka
sambil terus mencari jawabannya
mungkin dia tersesat hingga pagi tiba
mungkin dia terlambat menghindari sang surya
mungkin pendar matahari melukai matanya
membutakannya
bisa saja, pikirku
karena kami tahu takdirnya
sebagai pembawa kabar maut yang dilahirkan oleh legam malam
karena kami mengenalnya
sebagai penyulam dukacita yang bernafas dalam kegelapan
seekor gagak selalu takut akan cahaya
seekor gagak selalu membenci sisi terang dunia
karena dia tahu,
jika dia digariskan sebagai pewarta kematian manusia
maka suatu hari mataharilah yang akan mewartakan kematiannya
kami masih berkumpul mengelilingi jasadnya
membicarakan kematiannya
menerka-nerka
tanpa pernah menemukan jawabannya
hingga satu-persatu dari kami melangkah pergi
meninggalkan jasad seekor burung gagak
yang tergeletak mati ditengah jalan
,di suatu pagi
4 Januari 2014
HITAM, SUNYI, MAHA
ini adalah romantika berwarna hitam
ketika kugores ujung jariku,
lalu dengan darahnya
kulukis lekuk bibirmu di kusamnya tembok penjara
ini adalah romantika paling sunyi
ketika kau masih menantiku di tepian hari,
walau kau sendiri tahu
bahwa aku tak akan pernah kembali
ini adalah romantika paling maha
tepat sebelum maut mengeksekusi nafasku,
aku menyadari bahwa kau mencintaiku
walau kau tak pernah tahu siapa namaku
ketika kugores ujung jariku,
lalu dengan darahnya
kulukis lekuk bibirmu di kusamnya tembok penjara
ini adalah romantika paling sunyi
ketika kau masih menantiku di tepian hari,
walau kau sendiri tahu
bahwa aku tak akan pernah kembali
ini adalah romantika paling maha
tepat sebelum maut mengeksekusi nafasku,
aku menyadari bahwa kau mencintaiku
walau kau tak pernah tahu siapa namaku
Langganan:
Postingan (Atom)