peluru tak punya mata untuk melihat
mana anak-anak mana janda
peluru hanya punya dahaga
akan darah dan ambisi kemenangan
meluncur dari mulut senapan
menembus jantung-jantung suci
menghabisi nyawa bocah yang sedang asyik berlari-lari
merenggut nafas seorang ibu yang anak-anaknya
menunggu di rumah dengan perut lapar
bau mesiu dan darah
bercampur dengan pekat aroma kematian
ribuan jiwa berkubang dalam rasa takut
menanti ajal yang membayang di setiap sudut kota
bersama bising desing peluru
yang tinggal menunggu giliran
bersarang di dada mereka
dunia menatapnya
gadis cilik menangis kencang
dengan tangan berlumur darah ibunya
seorang bapak berlari kesana kemari
sambil menggendong jasad putra kecilnya
ribuan nyawa berhamburan
membumbung bersama asap tebal menuju langit
kapankah dendam ini akan padam?
kutundukkan kepala
ketika kulihat matahari menghitam
di langit gaza
2009
didedikasikan untuk palestina dan mimpi tentang perdamaian abadi
30 Januari 2009
15 Desember 2008
SUDAH WAKTUNYA AKU PERGI
sudah waktunya untuk pergi
meninggalkan semuanya di belakang
membawa pergi semua luka
membawa pulang semua kenangan yang masih tersisa
langkah-langkah panjang
berat membiarkan bayangmu hilang dalam gelap
semua yang telah kita jalani
dan cinta yang seharusnya aku jaga
menjelma menjadi siluet yang perlahan tenggelam
ke dasar memoriku
aku pergi sayang
dan cukuplah,
satu kecupan pedih mengiringi tapak-tapak kepergianku
2008
meninggalkan semuanya di belakang
membawa pergi semua luka
membawa pulang semua kenangan yang masih tersisa
langkah-langkah panjang
berat membiarkan bayangmu hilang dalam gelap
semua yang telah kita jalani
dan cinta yang seharusnya aku jaga
menjelma menjadi siluet yang perlahan tenggelam
ke dasar memoriku
aku pergi sayang
dan cukuplah,
satu kecupan pedih mengiringi tapak-tapak kepergianku
2008
DAN INILAH KITA HARI INI
masa lalu berulang kali menikam kita dari belakang
dan kita rapuh perlahan menjadi debu di peradaban
yang makin kelam
dan inilah kita hari ini
tenggelam dalam keterasingan
dalam ketiadaan yang begitu dalam
dalam kenangan yang begitu legam
memaksa kita untuk menangis
walau kita tahu,
air mata tak lagi berharga untuk kita
2008
dan kita rapuh perlahan menjadi debu di peradaban
yang makin kelam
dan inilah kita hari ini
tenggelam dalam keterasingan
dalam ketiadaan yang begitu dalam
dalam kenangan yang begitu legam
memaksa kita untuk menangis
walau kita tahu,
air mata tak lagi berharga untuk kita
2008
Langganan:
Postingan (Atom)