30 Januari 2009

MATAHARI MENGHITAM DI LANGIT GAZA

peluru tak punya mata untuk melihat
mana anak-anak mana janda
peluru hanya punya dahaga
akan darah dan ambisi kemenangan
meluncur dari mulut senapan
menembus jantung-jantung suci
menghabisi nyawa bocah yang sedang asyik berlari-lari
merenggut nafas seorang ibu yang anak-anaknya
menunggu di rumah dengan perut lapar

bau mesiu dan darah
bercampur dengan pekat aroma kematian
ribuan jiwa berkubang dalam rasa takut
menanti ajal yang membayang di setiap sudut kota
bersama bising desing peluru
yang tinggal menunggu giliran
bersarang di dada mereka

dunia menatapnya
gadis cilik menangis kencang
dengan tangan berlumur darah ibunya
seorang bapak berlari kesana kemari
sambil menggendong jasad putra kecilnya
ribuan nyawa berhamburan
membumbung bersama asap tebal menuju langit

kapankah dendam ini akan padam?
kutundukkan kepala
ketika kulihat matahari menghitam
di langit gaza


2009

didedikasikan untuk palestina dan mimpi tentang perdamaian abadi

15 Desember 2008

SUDAH WAKTUNYA AKU PERGI

sudah waktunya untuk pergi
meninggalkan semuanya di belakang
membawa pergi semua luka
membawa pulang semua kenangan yang masih tersisa

langkah-langkah panjang
berat membiarkan bayangmu hilang dalam gelap
semua yang telah kita jalani
dan cinta yang seharusnya aku jaga
menjelma menjadi siluet yang perlahan tenggelam
ke dasar memoriku

aku pergi sayang
dan cukuplah,
satu kecupan pedih mengiringi tapak-tapak kepergianku


2008

DAN INILAH KITA HARI INI

masa lalu berulang kali menikam kita dari belakang
dan kita rapuh perlahan menjadi debu di peradaban
yang makin kelam

dan inilah kita hari ini
tenggelam dalam keterasingan
dalam ketiadaan yang begitu dalam
dalam kenangan yang begitu legam
memaksa kita untuk menangis
walau kita tahu,
air mata tak lagi berharga untuk kita


2008