1 Juni 2013

ANTOLOGI AMARAH

Amarah adalah sebuah proyek antologi puisi dan cerita pendek yang digagas oleh sebuah lembaga pluralisme bernama Lembaga Bhinneka.

Buku yang berisikan 12 cerita pendek dan 39 puisi ini mengetengahkan tema kemarahan yang membara atas ketidakadilan dan diskriminasi -yang kadang berbau SARA- yang akhir-akhir ini marak terjadi di negara ini. Mengutip sinopsis di awal buku, "Amarah yang berkobar-kobar itu ditujukan kepada cinta yang tanpa restu, dogma yang meruntuhkan kemanusiaan dan mengubahnya menjadi manusia robot, kekerasan negara (dan kematian yang sia-sia), perusak kedamaian, isu SARA yang dipolitisasi, dan berujung pada pertanyaan kepada Tuhan.".

Yang menarik adalah, buku ini menampilkan karya-karya penulis muda, yang mungkin namanya belum dikenal di dunia kepenulisan dan sastra. Namun, karya-karya mereka menjadi sesuatu yang luar biasa ketika ditulis dengan amarah yang berapi-api.

Cerita pendek berjudul Perjamuan Terindah Sepanjang Masa karya Haz Algebra dan puisi berjudul Sajak Seorang Anak Pelacur karya de Baron Martha menjadi rekomendasi saya untuk isi Antologi ini.

Buku Antologi Amarah dapat dibeli di Toko Buku Gramedia di seluruh Indonesia dengan harga IDR 45K atau dapat dipesan secara online di sini.


regards,
de Baron Martha

14 Mei 2013

TENTANG ANTOLOGI AMARAH DAN PUISI SAYA

Salah satu puisi saya yang berjudul "Sajak Seorang Anak Pelacur", dibacakan oleh seorang sahabat asal Jakarta, Bintang Jakarta, di acara Launching buku antologi Amarah.

Puisi yang dibukukan dalam antologi AMARAH tersebut tidak saya posting di blog ini, namun yang ingin membacanya, bisa membeli buku antologinya di Gramedia di seluruh Indonesia.

Berikut link video-nya:




de Baron Martha

7 Mei 2013

SEBUAH PROSA YANG KUTULIS DI DALAM KERETA TUA

di kursi kosong di lorong kereta tua
yang melaju menuju senja
aku menulis prosa untukmu,
gadis dengan lengkung senyum nyaris sempurna

namun jangan kau resah,
aku berjanji tak akan pernah membacanya
aku hanya akan menulisnya
lalu meremas kertasnya
dan membuangnya keluar jendela
karena aku tahu,
aku tahu kau lebih suka teracuhkan
kau lebih nyaman terpinggirkan
kau tak pernah suka terkenangkan

prosa ini sepertimu,
gadis dengan sudut mata paling semu
prosa ini sepertimu,
tanpa ragu merenggut rasa
lalu menghilang begitu saja,
tanpa pernah kauijinkan aku meraih tanganmu
tanpa pernah kauperbolehkan aku membakar hatimu

lalu tarian penaku terhenti
aku tak mampu menyelesaikan baris terakhirku
aku termangu,
aku lupa bagaimana mengeja namamu


7 Mei 2013