dalam remangnya kita berdua
berkecupan liar
bercinta dengan lengang
sambil mendoakan mereka yang tak berdoa
sambil menangisi mereka yang tak pernah terluka
, hingga lentera perlahan padam
bayangbayang memudar
lalu mati
mati hingga waktu kita akan hidup kembali
1 Desember 2015
30 Oktober 2015
LALU
lalu terbungkamlah kita
matahari melukai sudut matamu
gelap menyeret sukmaku
dan fabel tentang kita terukir di batu-batu
tergilas beratus lembar peradaban
tak pernah mampu untuk bertemu
prasasti tentang masa depan
yang kau ukir di masa lalu
lalu kudesiskan dalam gelombang nafsu
aku tak akan pernah percaya kau pernah
mengelabuhi maut dengan rayuanmu
layaknya kau yang melaknatku sebagai pembual
ketika aku bercerita bahwa halley pernah melintasi garis tanganku
lalu terbungkamlah kita
untuk kesekian kali
matahari melukai sudut matamu
gelap menyeret sukmaku
dan fabel tentang kita terukir di batu-batu
tergilas beratus lembar peradaban
tak pernah mampu untuk bertemu
prasasti tentang masa depan
yang kau ukir di masa lalu
lalu kudesiskan dalam gelombang nafsu
aku tak akan pernah percaya kau pernah
mengelabuhi maut dengan rayuanmu
layaknya kau yang melaknatku sebagai pembual
ketika aku bercerita bahwa halley pernah melintasi garis tanganku
lalu terbungkamlah kita
untuk kesekian kali
23 September 2015
KEPADA RAGA YANG MENDAPATKAN PENCAPAIAN
siapa yang tahu jika hatinya ternyata mirip astaka
dunia bisa menelusurinya
setiap mata bisa menjamahnya
dan aku hanya berlalu pilu
karena di telingaku tawanya masih bertalu-talu
dan korona di mimpiku bersemayam di bibirnya
petang itu pun aku bercanda bersama bara
mencoba peruntungan dengan wangi-wangi air
yang mengalir dari celah rangkanya
di sudut yang tak terduga aku menemukan canduku
malam di atas malam gurau kami beralun
menulikan apa saja yang kentara
tentu saja kami tak sadar
bahwa isyarat yang terikat pada kami akan diterjang badai
hari itu adalah pagi hari yang sunyi
gelak kami seperti melakoni semedi
hati semua orang dingin seperti malam di padang pasir
kami mengulur benang bening tenggat demi tenggat
dan pada kisah kami yang seperti kilat
kepada raga yang mendapatkan pencapaiannya
kepada raga yang kemarin membuatku jatuh cinta.
dan korona di mimpiku bersemayam di bibirnya
petang itu pun aku bercanda bersama bara
mencoba peruntungan dengan wangi-wangi air
yang mengalir dari celah rangkanya
di sudut yang tak terduga aku menemukan canduku
malam di atas malam gurau kami beralun
menulikan apa saja yang kentara
tentu saja kami tak sadar
bahwa isyarat yang terikat pada kami akan diterjang badai
hari itu adalah pagi hari yang sunyi
gelak kami seperti melakoni semedi
hati semua orang dingin seperti malam di padang pasir
kami mengulur benang bening tenggat demi tenggat
dan pada kisah kami yang seperti kilat
kepada raga yang mendapatkan pencapaiannya
kepada raga yang kemarin membuatku jatuh cinta.
Langganan:
Postingan (Atom)