18 Januari 2015
6 Januari 2015
WALTZ HITAM
Kau dan setiap ganjil tidurmu. Tidakkah kau dengar bisikan jahatku? Jangan ragu! Itulah aku! Kemarilah! Hadapi seringaiku!
Kubunuh matahari agar kau tak pernah bercinta dengannya lagi. Lupakan! Tak akan ada lagi harapan yang bisa kau kais! Tak sesisapun.
Akan tiba saatnya. Kau tak akan mampu mencegahnya. Jangan menangis. Tulah telah genap dimantrakan. Dan di detik keenam ratus enam puluh enam, aku akan timpakan kegelapan di aliran
darahmu.
Dengarkanlah, aku adalah takdir, malam, mimpi buruk dan kematian. Aku adalah nada dansa para durjana. Aku adalah minor di sudut lelap umat manusia.
Kubunuh matahari agar kau tak pernah bercinta dengannya lagi. Lupakan! Tak akan ada lagi harapan yang bisa kau kais! Tak sesisapun.
Akan tiba saatnya. Kau tak akan mampu mencegahnya. Jangan menangis. Tulah telah genap dimantrakan. Dan di detik keenam ratus enam puluh enam, aku akan timpakan kegelapan di aliran
darahmu.
Dengarkanlah, aku adalah takdir, malam, mimpi buruk dan kematian. Aku adalah nada dansa para durjana. Aku adalah minor di sudut lelap umat manusia.
14 Desember 2014
KADITA
gadis kecil dengan mata sepi
menenteng nyala hitam api dendam
melangkahi bayangnya
meludahi rasa yang selalu dia ingkari
dengan tangisnya yang terlalu sunyi
dia mensejajarkan utara dan selatan
di garis tangannya yang memotong cinta dan benci
hina dan suci
awal dan tepi
dan dia tak peduli
meski dia tahu akan terus dikhianati
dicerca nabi-nabi
karena dia mencumbui matahari
dan membiarkan cahayanya
mememarkan sudut matanya
lihatlah dia,
melangkah dengan menenteng nyala hitam api dendam
berkeliling kota membawakan kabar baik
bagi para bajingan dan para pelacur hina
bagi para pemuja malam dan pencipta luka
bagimu, yang bertakdir terbakar doa
lihatlah dia,
mentertawakanmu yang bersuka ria
lalu menangisimu yang bermuram durja
lalu mencintaimu yang mati,
sebelum pagi tiba
namanya tidak tertulis dalam ayat-ayat tuhan
tapi kisahnya terus diderukan
oleh ombak di tujuh lautan
apakah kau tidak mendengar?
ketika dia membutakan mata sang raja
ketika dia menghancurkan keikhlasan si sudra
ketika dia merobohkan keteguhan sang pertapa
ketika dia mematri senja
di hati para pendosa
o,
gadis kecil yang berkelana
di setiap hati yang legam
tlah usai dia larungkan seluruh takdirnya
di tepian pantai berpasir hitam
dan di penghujung jalan panjangnya
dia mendesah,
dia meresah,
dia takut mengakhiri kisahnya
tanpa pernah tahu siapa namanya
tanpa pernah bisa mengenali
bagaimana raut wajahnya
25 November 2013
menenteng nyala hitam api dendam
melangkahi bayangnya
meludahi rasa yang selalu dia ingkari
dengan tangisnya yang terlalu sunyi
dia mensejajarkan utara dan selatan
di garis tangannya yang memotong cinta dan benci
hina dan suci
awal dan tepi
dan dia tak peduli
meski dia tahu akan terus dikhianati
dicerca nabi-nabi
karena dia mencumbui matahari
dan membiarkan cahayanya
mememarkan sudut matanya
lihatlah dia,
melangkah dengan menenteng nyala hitam api dendam
berkeliling kota membawakan kabar baik
bagi para bajingan dan para pelacur hina
bagi para pemuja malam dan pencipta luka
bagimu, yang bertakdir terbakar doa
lihatlah dia,
mentertawakanmu yang bersuka ria
lalu menangisimu yang bermuram durja
lalu mencintaimu yang mati,
sebelum pagi tiba
namanya tidak tertulis dalam ayat-ayat tuhan
tapi kisahnya terus diderukan
oleh ombak di tujuh lautan
apakah kau tidak mendengar?
ketika dia membutakan mata sang raja
ketika dia menghancurkan keikhlasan si sudra
ketika dia merobohkan keteguhan sang pertapa
ketika dia mematri senja
di hati para pendosa
o,
gadis kecil yang berkelana
di setiap hati yang legam
tlah usai dia larungkan seluruh takdirnya
di tepian pantai berpasir hitam
dan di penghujung jalan panjangnya
dia mendesah,
dia meresah,
dia takut mengakhiri kisahnya
tanpa pernah tahu siapa namanya
tanpa pernah bisa mengenali
bagaimana raut wajahnya
25 November 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
